Halal Bi Halal dan Tabliqh Akbar di Poso Dihadiri Ribuan Orang

KH. Muhamad Cholil Nafis, LC -Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat saat memberikan ceramahnya diacara Halal Bi Halal dan Tabliqh Akbar, di lapangan Sintuwu Maroso Poso, Kamis (26/7/2018).
KH. Muhamad Cholil Nafis, LC -Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat saat memberikan ceramahnya diacara Halal Bi Halal dan Tabliqh Akbar, di lapangan Sintuwu Maroso Poso, Kamis (26/7/2018).

POSO, UTARA POST – Tabligh Akbar dalam rangka Halal Bi Halal 1439 H/2018 M yang diselenggarakan oleh Komisariat Daerah Al Khairaat Kabupaten Poso bekerjasama Polres Poso dan didukung oleh Pemda Poso, MUI Poso, Front Pembela Islam Poso, Amnatul Ummah Poso, TNI dan Polri dengan tema “Merajut Ukhuwah, Membangun bangsa dalam bingkai Islam Rahmatan Lil Alamin” dihadiri ribuan orang.

Tabligh akbar yang berlangsung, Kamis (26/7/2018) di lapangan Sintuwu Maroso Poso, diisi penceramah dari Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH. Muhamad Cholil Nafis, LC -Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat.

Pada kesempatan itu dalam ceramahnya KH. Muhamad Cholil Nafis, LC menyebutkan, Poso benar-benar aman, damai dan bersatu. Tak seperti bayangan  sebelumnya bahwa Poso daerah konflik,

“Nyatanya sekarang benar-benar aman dan damai. Pemerintah, ulama, Polisi, TNI dan masyarakat bersatu padu melawan bentuk perpecahan,” ujarnya

Selain itu, Cholil Nafis menyampaikan beberapa hal, diantaranya soal persatuan umat dan masyarakat Indonesia, khususnya Poso. Bahwa bersatu itu Nikmat. Tak mungkim dapat menikmati hidup tanpa persatuan. Dan persatuan dapat terciptakan dan diraih manakala hatinya lembut dan saling menyayangi.

“Rakyat Poso sedang mendapatkan nikmat persatuan setelah sebelumnya pernah konflik. Maka peliharalah persatuan dan perdamaian di Poso ini,” pintanya.

Di juga menjelaskan, bahwa negara Indonesia adalah Islami dengan referensi ajaran Islam yang otentitik dan mutawatir. Yaitu berdasarkan Shahifah Madinah (Piagama Madinah) sebagai konstitusi Islam pertama dalam Islam yang langsung diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW. sebagai haditsnya.

Kata Cholil, bahwa dalam Shahifah itu tak menyebut model negara tapi berdasarkan kesepakatan (miitsaq) antar penduduk negara Madinah, baik yang muslim maupun yang non muslim.

“Yang terpenting dalam bernegara adalah mencapai tujuan bersama: Mengangkat pemimpin yang adil yang dapat memelihara harmonisaisi agama sehingga bebas menjalankan ajaran agama dan tak menodai agama lain. Juga pemimpin yang diangkat harus dapat menjaga stabilitas sosial. Maka momentum Pilpres nanti adalah mencari pemimpin yang dianggap bisa berbuat adil dan memberi kesejahteraan kpd masyarakat,” paparnya

Dia menambahkan, Pilpres tahun 2019 adalah suasana kompetisi antar anak bangsa untuk memberi yang terbaik dalam rangka mengisi dan menggapai cita-cita kemerdekaan.

“Karenanya tak perlu kita menjelekkan yang lain, tak elok menyebut cebong atau kampret. Suasana pilpres itu persaudaraan dan persaingan bukan kondisi peperangan,” sebutnya.

.

Dia menjelaskan, dalam pasal Pertama di Piagam Madinah adalah Persatuan bagi seluruh penduduk Madinah (innahum ummatun wahidatun min dunin naas). Karena semua pembangunan, baik rohani atau jasmani dan mental atau spiritual landasannya adalah persatuan.

“Sila dalam Pancasila pun menyepakati pentingnya Persatuan Indonesia. Undang-undang boleh berubah tapi Negara Kesatuan Republik indonesia tak boleh goyah apalagi diganti karena NKRI bagi kami adalah sesuatu yang final dan harga mati,” tegasnya.

Dia menitip pesan sebagaimana tausyiyah pertama Rasulullah SAW,  ketika hijrah ke Madinah yakni Jagalah dan sebarkanlah salam dan kedamaian, Rekatkanlah ikatan silaturrahim, Selalu berbagi kepada lain sesuai dengan apa dan yang mampu diberikan, dan selalu ingat kepada Allah SWT. RHM

”benner